Infrastruktur Nasional Politik Travel
Beranda » Genom Sapi Grati Jadi Andalan Baru Pengembangan Sapi Perah Dataran Rendah

Genom Sapi Grati Jadi Andalan Baru Pengembangan Sapi Perah Dataran Rendah

PASURUAN, TOREH.CO – Kabupaten Pasuruan memiliki potensi genetik sapi perah lokal yang dinilai bisa menjadi bagian dari upaya meningkatkan produksi susu nasional. Potensi tersebut adalah Genom Sapi Grati, sapi yang dikembangkan untuk mampu beradaptasi di wilayah dataran rendah.

Hal itu disampaikan Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo saat menerima kunjungan kerja Komisi IV DPR RI di KUD Sukamakmur, Kecamatan Grati, Senin (28/9) sekitar pukul 09.00.

Rusdi mengatakan, Genom Sapi Grati merupakan hasil penelitian yang diinisiasi Pemerintah Kabupaten Pasuruan bersama koperasi. Penelitian tersebut kini telah selesai dan proses pengurusan hak kekayaan intelektual (HAKI) tengah dilakukan.

Truk Bermuatan Triplek Terguling di Tol Gempas, Bus Tabrak Muatan yang Tumpah

“Di sini ada sapi yang cuma ada di Kabupaten Pasuruan, yaitu Genom Sapi Grati. Sekarang masih tahap proses kita kembangbiakkan,” kata Rusdi.

Menurutnya, keunggulan Genom Sapi Grati terletak pada kemampuan adaptasinya. Sapi tersebut dapat dikembangkan di dataran rendah, termasuk wilayah yang dekat dengan pantai.

“Di samping pantai pun bisa menghasilkan susu yang banyak dan asupan makanan lebih sedikit, tahan penyakit. Hanya ada di Grati,” ujarnya.

Indonesia Raih Emas Pertama Asian Games 2026 dari Beregu Putra Bulu Tangkis

Kondisi itu menjadi salah satu pembeda dengan sapi perah impor yang selama ini banyak dikembangkan di kawasan dataran tinggi.

Rusdi menyebut sentra sapi perah di Kabupaten Pasuruan selama ini banyak berada di wilayah seperti Puspo, Tutur dan Tosari. Sementara Kecamatan Grati memiliki karakter geografis berbeda karena berada di dataran rendah.

“Grati satu-satunya yang dataran rendah dan menghasilkan susu dan sapinya tahan penyakit,” jelasnya.

Untuk saat ini, pengembangan Genom Sapi Grati difokuskan di wilayah Grati dan Nguling. Pemkab Pasuruan juga membuka peluang agar hasil pengembangan tersebut nantinya dapat dimanfaatkan daerah lain yang ingin membangun kembali peternakan sapi perah.

“Kita lebih kembangbiakkan karena Grati sama Nguling. Tapi kita juga belum tahu daerah kabupaten/kota mana yang mungkin bisa pakai genomnya Grati untuk mengembalikan industri atau peternakan susu di daerahnya,” tutur Rusdi.

Ia menegaskan, Pemkab Pasuruan siap memberikan dukungan apabila Genom Sapi Grati nantinya dapat dikembangkan lebih luas untuk mendukung ketahanan pangan nasional.

“Kita siap support selama untuk ketahanan pangan nasional,” tegasnya.

Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto dalam kunjungan tersebut menekankan bahwa peningkatan populasi sapi tidak cukup hanya dengan mendatangkan sapi dari luar negeri.

Menurutnya, pemerintah juga harus menyiapkan kebutuhan pakan dan lahan hijauan.

“Tidak hanya mendatangkan sapi-sapi impor yang begitu banyak, tetapi juga harus dipikirkan kalau sapi itu datang, dia makan apa? Pakannya harus disediakan. Harus ada lahan hijauan,” kata Siti Hediati.

Ia menyebut produksi susu lokal harus terus diperkuat. Impor, menurutnya, masih diperlukan selama produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan nasional. Namun, impor perlu dibatasi untuk memberikan perlindungan terhadap peternak lokal.

Sementara itu, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda menyampaikan pemerintah tengah menyiapkan program penambahan populasi sapi perah, termasuk melalui skema bantuan pembelian sapi.

Di sisi lain, produksi susu segar domestik saat ini disebut baru memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan nasional. Kondisi tersebut membuat penguatan peternakan rakyat, koperasi, pakan, kesehatan hewan, pembibitan, hingga industri pengolahan menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan produksi.

Bagi Kabupaten Pasuruan, pengembangan Genom Sapi Grati menjadi salah satu potensi yang dapat melengkapi program tersebut. Tidak hanya menambah jumlah sapi, tetapi juga mengembangkan sumber daya genetik lokal yang mampu beradaptasi dengan kondisi wilayah Pasuruan. (AI/DM)